Rabu, 03 November 2010

JAWA TIMUR Polisi Bekuk 15 Tersangka Penipu 1.100 CPNS

SIDOARJO ONLINE (Sumber; Suara Karya): Polisi sudah menangkap 15 orang tersangka kasus penipuan pengangkatan calon pegawai negeri sipil (CPNS). Para tersangka menerima imbalan Rp 80-120 juta dari 1.100 korban yang dijanjikan akan dijadikan PNS di lingkungan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur.

Menurut Kapolda Jatim Irjen Pol Badrodin Haiti, sindikat itu beroperasi di berbagai wilayah mulai dari Gresik, Bangkalan, Malang, Madiun, Surabaya, Sidoarjo hingga Mojokerto. "Total jumlah tersangka 17 orang, tapi dua di antaranya masih DPO," ujarnya di Mapolrestabes Surabaya, Selasa (2/11).



Para tersangka yang sudah diamankan adalah Mei Dartono, Siswo, dan Effendi yang bertugas menjaring korban di wilayah Madiun. Demikian pula dengan M Sirod, Suwarno, dan Agus Supriyadi yang bertugas menggaet korban di Madura.

Polisi juga membekuk para tersangka yang menerima setoran uang dari para pelaku di berbagai daerah, yaitu Agus Yasmanto, Hasyim, Totok Julianto, Hasan Marzuki, Wardi, Djoko Suparno, dan Sumardi Asmara. Para tersangka penerima uang setoran itu berperan sebagai orang yang akan memasukkan para korban menjadi PNS.

Terungkapnya kasus itu bermula ketika puluhan korban mendatangi kantor Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Jawa Timur di Jalan Jemur Andayani, Surabaya, pekan lalu. Mereka yang diantar keluarganya masing-masing itu mengaku datang untuk memenuhi undangan instansi tersebut.

Pihak BKD yang merasa tidak menyebar undangan sempat kebingungan. Para pegawai BKD akhirnya memeriksa surat panggilan yang dibawa para korban. Belakangan diketahui, surat undangan panggilan yang mencantumkan tanda tangan kepala BKD itu ternyata palsu.

Para korban yang mengaku sudah mengeluakan uang puluhan juta itu akhirnya beramai-ramai melapor ke Polsek Wonocolo, Surabaya. Kepada polisi, para korban mengaku sudah memberikan uang hingga puluhan juta kepada Suryanto (41) yang tercatat sebagai warga Pekarungan, Kecamatan Sukodono, Kabupaten Sidoarjo.

Polisi bergerak cepat dan langsung membekuk tersangka yang ternyata berstatus pengurus DPC PDIP Sidoarjo. Korban Suyati (40), misalnya, mengaku tertipu Rp 38 juta karena tergiur ingin memasukkan anaknya menjadi PNS di Pemprov Jawa Timur. Sementara Khoirun dan Imam telah membayar Rp 190 juta dan Doni juga tertipu Rp 25 juta.

Menyusul Suryanto, jajaran Polsekta Wonocolo juga membekuk Zakaria (55), warga Jalan Wonosari, Surabaya, yang terlibat dalam kasus serupa. Zakaria merupakan guru bimbingan dan konseling (BK) di SMPN 15 setelah dipindah dari SMAN 5. Kini polisi masih memburu dua tersangka lain yang sudah masuk daftar pencarian orang (DPO).

Korban kasus serupa yang menimpa warga Madiun juga terungkap menyusul adanya laporan 21 orang. Sama seperti warga Sidoarjo, mereka datang ke BKD setempat dengan berbekal surat panggilan palsu yang mencantumkan tanda tangan Kepala BKD Jawa Timur.

Di Pamekasan, surat palsu itu juga diterima 85 korban yang masing-masing sudah menyetorkan Rp 40-50 juta kepada calo. Sementara di Bangkalan, 30 orang yang telah menyetorkan Rp 70 juta juga menjadi korban kasus serupa. Kasus ini merepotkan para kepala BKD tiap kabupaten yang didatangi para korban.

Melihat banyaknya jumlah korban dan angka kerugian, jajaran Polda Jawa Timur ikut dilibatkan. Apalagi jaringan penipuan CPNS tersebut ternyata melibatkan banyak pelaku dari luar Surabaya. "Korbannya sendiri berasal dari hampir seluruh daerah di Jatim seperti Surabaya, Sidoarjo, Jombang, Madura, Kediri, dan Madiun. Kita minta semua polres untuk mengungkap kasus serupa di daerahnya masing-masing," ujar Badrodin.

Dari tangan pelaku yang sudah dibekuk, polisi mengamankan kuitansi pembayaran CPNS, kartu panggilan PNS dari Badan Kepegawaian Daerah (BKD) palsu, tabungan BCA, uang tunai puluhan juta, baju seragam Pemprov dan 1 unit mobil Honda CRV dan Toyota Rush, dan 2 unit motor. (Andira)

Tidak ada komentar: